Peta Pikiran Unsur Cerita “Pentingnya Budaya Tegur Sapa”

Hai adik-adik kelas 4 SD, tahukah tahukah kalian pekerjaan seorang kepala desa? Hal-hal baik apa yang bisa kita contoh dari mereka? Berikut ini ada cerita dari Pak Tulus yang bekerja sebagai Kepala Desa di Desa Sereh Wangi. Nanti kita akan membuat Peta Pikiran Unsur Cerita “Pentingnya Budaya Tegur Sapa”.

Cerita “Pentingnya Budaya Tegur Sapa”

Senangnya tinggal di Desa Sereh Wangi. Kedekatan hubungan antarwarga membuat mereka saling menjaga.

Tidak semua warga Desa Sereh Wangi merupakan penduduk asli. Sebagian warga merupakan pendatang, mereka masuk ketika kampung ini dibuka sebagai wilayah transmigrasi. Walau demikian, perbedaan asal usul tidak merenggangkan kedekatan mereka.

Kedekatan antarwarga dimulai dengan kebiasaan saling tegur sapa. Ketika berpapasan di lorong antarrumah, di jalan, atau di pasar tak pernah terlewat untuk saling menegur. Sekadar mengucap “Selamat pagi, selamat siang, selamat sore” sampai bertukar kabar atau berbincang sejenak. Semua saling kenal, semua saling peduli.

Di ujung jalan, tinggal Nenek Ijah seorang diri. Ia penghuni tertua di sini. Walau begitu ia masih mandiri melakukan kesibukan di rumahnya. Kadang ia terlihat menyapu pelan daun-daun di halaman rumah. Lain waktu ia duduk beristirahat di beranda. Pak Tulus, sang kepala desa, rajin menyapa Nenek Ijah. Pagi hari, sambil berangkat kerja, ia kerap mampir untuk sekedar mengantarkan ubi atau singkong rebus. Sore hari ia lewat lagi seraya melambai pada Nenek Ijah yang duduk di beranda.

Pada suatu pagi, Pak Tulus tidak menjumpai Nenek Ijah di halamannya. Sore harinya beranda rumah nenek Ijah masih tetap sepi. Pak Tulus menyempatkan untuk singgah. Pak Tulus mengetuk pintu, tetapi tak dijawab. Pak Tulus membuka pintu dan melangkah masuk. Betapa terkejut beliau menjumpai Nenek Ijah terkulai lemas di depan ruang tengahnya. Diraba dahinya, terasa agak hangat. Rupanya Nenek Ijah sakit. Pak Tulus menyesal tidak menyempatkan mampir tadi pagi namun, belum terlambat. Pak Tulus mengajak beberapa warga membawa Nenek Ijah ke dokter terdekat.

Pak Tulus mengatur jadwal warga yang akan bergantian menjaga Nenek Ijah sampai pulih. Tidak ada warga yang menolak. Semua sukarela membantu. Mereka tahu, kelak suatu ketika mereka dalam kesulitan, pasti akan dibantu.

Budaya tegur sapa menjadi perekat warga. Budaya tegur sapa membangun kepedulian terhadap sesama.

Peta Pikiran Unsur Cerita “Pentingnya Budaya Tegur Sapa”

Berdasarkan cerita di atas, buatlah peta pikiran unsur-unsur dari cerita tersebut!

Soal dan Pembahasan Cerita “Pentingnya Budaya Tegur Sapa”

1. Berdasarkan cerita di atas, tulislah hal-hal baik yang bisa dicontoh dari Pak Tulus!

Hal baik yang bisa dicontoh dari Pak Tulus:

  1. Rajin
  2. Peduli dengan warga
  3. Ramah
  4. Suka menolong

2. Apakah Pak Tulus sudah mengamalkan sila ketiga Pancasila? Jelaskan!

Pak Tulus sudah mengamalkan sila ketiga Pancasila karena dia berhasil menciptakan persatuan di desa yang penduduknya berasal dari berbagai daerah. Dia juga berhasil menciptakan kedekatan dari warga yang memiliki latar belakang berbeda. Selain itu, dia juga peduli seluruh warga tanpa membeda-bedakan asal, umur, jenis kelamin, agama, maupun kebudayaan.

3. Berdasarkan cerita di atas, tulislah hal-hal baik yang bisa dicontoh dari warga Desa Sereh Wangi!

Hal-hal baik yang dapat dicontoh dari warga Desa Sereh Wangi:

  1. Ramah
  2. Hubungan antar warga terjalin dengan erat
  3. Peduli kepada orang lain
  4. Mau membantu orang yang kesulitan

4. Meskipun kamu bukan warga Desa Sereh Wangi, hal apa yang kamu lakukan melihat kondisi Nenek Ijah? Jelaskan alasanmu!

Saya akan melaporkan kondisi nenek ijah kepada kepala desa agar nenek ijah diajak ke dokter dan dirawat ketika saat sakit.

5. Sikap-sikap baik apa yang bisa kamu contoh dari warga Desa Sereh Wangi?

Sikap baik yang saya contoh:

  1. Ramah terhadap semua orang melalui tegur sapa.
  2. Peduli kepada orang lain.
  3. Selalu menjaga persatuan di masyarakat

6. Dalam kehidupan sehari-hari, apa lagi yang bisa kamu lakukan untuk mengamalkan sila ketiga Pancasila?

  1. Tidak membeda-bedakan teman
  2. Menjaga persatuan di masyarakat
  3. Menggunakan produk Indonesia
  4. Menghargai perbedaan
  5. Saling menghormati

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *